I

Pendaratan pertama Belanda ke AcehJIKA kita mengulang sejarah 141 tahun lalu, 26 Maret 1873 berarti hari ini jatuh pada hari yang sama, yakni Rabu (26/3/2014). Bisa jadi itu adalah sebuah kebetulan saja, namun sejarah masa lalu bukanlah sebuah kebetulan semata, ada intrik, perebutan yang berasalan, dan juga soal kekuasaan.
Sejumlah sejarah terkait tanggal 26 Maret mungkin sudah begitu sering kita simak, kita baca, dan juga kita arsipkan dalam memori di kepala. Perang kaphe Belanda atau dalam bahasa Aceh Ulanda telah begitu banyak menyita perhatian kita sebagai sebuah bangsa.
Kita juga masih ingat, bagaimana Kerajaan Belanda bersama Kerajaan Inggris waktu itu telah sepakat dalam sebuah perjanjian yang dikenal dengan Traktat Sumatera. Disana cukup jelas tertera bahwa, “Bekas jajahan Belanda di Afrika (Gold Coast -sekarang Ghana) diserahkan kepada Inggris dan jajahan Inggris di Sumatera (yaitu Bengkulu) diserahkan kepada Belanda. Untuk menguasai seluruh Sumatera jika perlu Belanda akan memerangi Aceh. Perjanjian ini ditanda tangani tahun 1871.” Walau pun pada akhirnya perjanjian tersebut mengalami penolakan dari Parlemen Inggris, yang diwakili oleh Lord Standley Aderley.
Belanda bukanlah satu-satunya bangsa Asing yang datang ke Aceh, tapi maksud dan tujuan tak lebih ingin menancapkan kekuasaannya di bumi Aceh. Tersebutlah salah satu komisaris pemerintah yang merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda F.N. Nieuwenhuijn pada waktu itu, yang diawali dengan penandatanganan traktat tersebut, bahwa tidak ada kewajiban bagi Belanda untuk menghormati hak dan kedaulatan Aceh yang sebelumnya telah diakui, baik oleh Belanda maupun lnggris seperti yang tercantum di dalam Traktat London yang ditandatangani pada tahun 1824.
Tepat pada tanggal 26 Maret 1873 dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen –yang berlabuh di antara pulau Sabang dengan daratan Aceh– Belanda memaklumatkan perang kepada Aceh. Mulai saat itu, Aceh tertimpa malapetaka dan Belanda sendiri menghadapi suatu peperangan yang paling dahsyat, terbesar, dan terlama semenjak kehadirannya di Nusantara.
Dari sejumlah data juga menyebutkan, maklumat perang dari Belanda ini harus mendapatkan hasil yang tidak menyenangkan alias bisa disebut pendaratan pertama ke Aceh terbilang gagal di bawah pimpinan Jenderal Kohler. Kala itu Belanda tidak serta merta punya kekuatan fisik militer yang kuat karena harus menunggu terhimpunnya kekuatan perang yang sedang bergerak menuju Aceh dan kapal-kapal perang Belanda yang telah tiba di Aceh terus melakukan pengintaian dan provokasi di perairan Aceh.
Tidak hanya itu, Belanda juga melakukan diplomasi lewat sepucuk surat yang dikirimkan kepada Sultan (Sultan Alaiddin Mahmud Shah II) yang meminta agar ia mengakui kedaulatan Belanda. Dinyatakan pula bahwa Aceh telah melanggar pasal-pasal perjanjian pada tahun 1857. Batas waktu yang diberikan Belanda kepada Sultan Aceh tak lebih hanya 1 x 24 jam untuk menunjukkan bahwa Belanda benar-benar akan menyerang. Apa dianya, jawaban yang diberikan Sultan jauh dari memuaskan bahkan ditegaskan bahwa di dunia tidak seorang pun yang berdaulat kecuali Allah semata.
Itulah kilas sejarah yang pernah termuat dalam ingat dunia, tidak saja berakhir disitu. Kali pertama Belanda menyerang Aceh memang buta akan kondisi, mereka mengira Aceh masih dalam tahap kemunduran, baik dari sisi politik maupun ekonomi. Kraijnhoof misalnya, pernah menyimpulkan bahwa situasi pemerintahan kesultanan Aceh lemah dan perlengkapan militer tidak berarti dibandingkan dengan Belanda. Oleh karena itu, Belanda berani menyerang Aceh.
Namun, kenyataanya perang Belanda di Aceh tidak hanya mencakup masalah ekonomi dan politik, tetapi ada segi-segi lain yang tidak diperhitungkan oleh Belanda, sehingga Belanda menelan kekalahan.
Perang kaphe Belanda di Aceh tidak hanya berakhir pasca-menderita kekalahan, walaupun terpukul dan sang Jenderal Kohler mati di dekat Masjid Raya Baiturrahman, ditambah lagi sebanyak 45 orang tewas termasuk 8 opsirya serta 405 orang luka-luka diantaranya 23 opsir.
Pada tanggal 29 April 1873 pasukan Belanda ditarik kembali ke Batavia. Dan setelah itu baru pasukan Belanda bangkit lagi untuk mempersipkan agresi kedua menyerang Aceh, Pemerintah Hindia Belanda demi memenuhi nafsunya menguasai Kutaraja kembali memanggil seorang pensiunan jenderal, J. Van Swieten untuk merebutkan Aceh hingga daerah Seulimeum jatuh ke tangan mereka pada tahun 1879, serta perang kecil pada waktu itu terus berlanjut di Aceh.[
Share this article :

No comments:

Popular Posts Today

 
Support : Creating Website | media indofokus | indofokus | indofokus.com | media indofokus | indofokus News | Media indofokus
Copyright © 2011. TABLOID INDOFOKUS.COM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired MEDIA INDOFOKUS
Proudly powered by Blogger