I

Home » » Bidik Industri Nakal

Bidik Industri Nakal




PALEMBANG INDOFOKUS ESA  – Ratusan  kilogram makanan terdiri dari tahu dan mi basah mengandung formalin kemarin (31/7), dimusnahkan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM), di tempat pembuangan akhir (TPA) Karya Jaya II.  Tak tanggung-tanggung, makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya bagi tubuh itu bernilai jutaan rupiah.
Kepala Bidang Pemeriksaan dan Penyidikan BBPOM  Devi Lidiarty didampingi Arofah Nur Fahmi, Plh BBPOM mengatakan,  mi dan tahu yang  mengandung formalin ini  berasal dari barang sitaan empat industri di Metropolis yang dilakukan. Sebelumnya pihaknya melakukan uji sampel di puluhan pasar beduk pada 10-18 Juli terhadap 170 makanan yang berpotensi mengandung formalin, seperti rujak mi, pempek tahu, gula tahu dan makanan lainnya.   Ternyata, 168 positif mengandung zat berbahaya yakni formalin dan rhodamin B.
”Dari situ, kami meminta keterangan dari penjual di mana tempat produksi  tahu dan mi yang mengandung formalin, dan kami melakukan tindak lanjut dengan melakukan sidak terhadap 4 industri pada 18-21 Juli lalu,” katanya.   
    Devi  mengatakan, barang yang disita yakni 2 ember tahu yang berisi 230 bersama dengan air  rendamannya, 17 ember  tahu masing-masing ember 150 tahu, dan tahu dalam air  rendaman sebanyak 4 ember.  Sedangkan mi kuning basah sebanyak 430 kg. ”Total sitaan barang mengandung formalin 430 kg mi basah  seharga Rp1.935.000 dan 23 ember tahu seharga Rp1.400.000. Jadi barang yang dimusnahkan mengandung formalin senilai Rp3,3 juta,” terangnya.    
Dikatakannya, makanan yang mengandung formalin tersebut terdiri yang disita selama empat hari, dari empat pedagang yang berada di Jl Kembang Manis dan Jl Madang.  Nah, terhadap  industri yang menggunakan bahan kimia berbahaya, maka  akan ditingkatkan  pada tindak pidana, karena sudah  melanggar Undang–Undang No 18 Tahun 2012 tentang Pangan  dengan hukuman   kurungan 5 tahun dan denda Rp10 juta. ”Tahun kemarin  ada satu industri yang dikurung selama 15 bulan,” ucapnya.
    Disinggung mengenai pelaku usaha yang belum terjaring, Devi tidak mengungkapkan secara gamblang. Namun yang pasti pihaknya akan terus melakukan pengawasan dan penertiban terhadap makanan yang mengandung zat kimia tersebut.
Devi menambahkan, untuk bulan puasa, kegiatan pengawasan lebih ditingkatkan lagi dengan menerjunkan tim khusus untuk memantau makanan di pasar beduk.  Selain itu, pihaknya menerjunkan tim  untuk mengawasi parsel, khususnya mengenai mutu dan kedaluwarsa.  ”Kami mulai kemarin (29/7), bekerja sama dengan pihak terkait sudah mulai melakukan sidak terhadap penjual parsel. Pengusaha yang menjual parsel tidak memenuhi standar pun akan kita tertibkan,” tukasnya. (yun/ce2)


SUMATERA EXPRESS
Share this article :

No comments:

Popular Posts Today

 
Support : Creating Website | media indofokus | indofokus | indofokus.com | media indofokus | indofokus News | Media indofokus
Copyright © 2011. TABLOID INDOFOKUS.COM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired MEDIA INDOFOKUS
Proudly powered by Blogger