I

Home » » Mulai Banyak Dikunjungi Publik, Situs Liyangan Belum Boleh Dikenai Retribusi

Mulai Banyak Dikunjungi Publik, Situs Liyangan Belum Boleh Dikenai Retribusi

INDOFOKUS ESA

situs liyangan 300x200 Mulai Banyak Dikunjungi Publik, Situs Liyangan Belum Boleh Dikenai Retribusi
Kompleks situs Liyangan, di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, diekskavasi belum lama ini. (Foto Suara Merdeka)
Temanggung – Bupati Temanggung Hasyim Afandi meminta agar untuk sementara ini terhadap situs Liyangan yang sudah dimulai dikunjungi masyarakat supaya tidak dikenakan retribusi. Menurut dia, retribusi itu kan pada dasarnya merupakan pengganti dari layanan. Liyangan tersebut infrastrukturnya saja belum memadai, untuk itu belum perlu dikenakan retribusi.
Ia berpendapat, apabila belum-belum sudah ada retribusi dikhawatirkan malah nanti masyarakat yang sekadar ingin tahu tentang situs Liyangan menjadi enggan berkunjung.
Dia justru berpesan agar masyarakat sekitar bisa mulai membenahi diri untuk menyambut ke depan Liyangan yang diperkirakan akan menjadi objek wisata.
“Liyangan itu sudah menasional dan saya yakin akan menjadi daya tarik tersendiri. Maka salah satu syaratnya warga di sekitar Liyangan harus bersikap ramah, sopan pada pengunjung, menciptakan rasa aman, nyaman, dan kebersihan,” imbuhnya.
Dijelaskan, sikap dan perilaku warga sangat mempengaruhi kunjungan wisatawan pada sebuah objek wisata. Jika warga atau pengelola bersikap tidak ramah dan membuat kapok, maka jangka panjangnya justru merugikan, sebab akan ditinggalkan.
Berdasar hasil ekskavasi sementara, oleh Tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Situs Liyangan merupakan peninggalan agama Hindu era Mataram Kuno abad IX-X Masehi.
Pertanian Kuno
Keunikan Liyangan karena selain ada candi tempat beribadatan juga ada kompleks permukiman warga, dan lahan pertanian kuno. Nilai budaya situs Liyangan merupakan kelas dunia dan sementara ini masuk kategori watak (setingkat ibukota provinsi).
Yusuf Fathony (26), seorang pengunjung Liyangan mengaku kagum dengan penemuan benda bersejarah di kaki Gunung Sindoro itu. Pasalnya, bagunannya sangat unik dan adanya penemuan berbagai benda menyimpan banyak misteri sehingga membuatnya penasaran seperti keramik dari Cina, kemudian bagunan percandian.
“Saya pikir ini tidak kalah dengan Trowulan ibu kota Majapahit di Jawa Timur. Tapi saya berpesan agar nanti kalau sudah jadi tempat wisata pengelolaannya profesional. Contohnya di Singapura atau Malaysia saat liburan sekolah tempat wisata itu berlomba-lomba memberi diskon, tapi di Indonesia malah tiketnya dinaikkan,” tandasnya.
Sumber: Suara Merdeka sesi Suara Kedu halaman 21, 26 Juni 2013
Share this article :

No comments:

Popular Posts Today

 
Support : Creating Website | media indofokus | indofokus | indofokus.com | media indofokus | indofokus News | Media indofokus
Copyright © 2011. TABLOID INDOFOKUS.COM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired MEDIA INDOFOKUS
Proudly powered by Blogger