I

Home » » Kami Merasa Teraniaya Oleh PLN

Kami Merasa Teraniaya Oleh PLN


Sabtu, 27 Juli 2013 08:28 WIB
Kami Merasa Teraniaya Oleh PLN
INTERNET
ILUSTRASI  
 PEKANBARU INDOFOKUS ESA     - Sejumlah warga merasa teraniaya dengan adanya pemadaman listrik yang dilakukan oleh PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau ini. Bayangkan saja, disaat warga membutuhkan pasokan listrik berlebih untuk mencari rezeki jelang lebaran, PLN kembali merusak rencana warga tersebut. Para pengusaha kue dan pelaku UKM terutama yang merasakan dampak dari ulah PLN ini.
"Kami merasa teraniaya bang dengan adanya pemadaman ini. Untuk buat kue kami terganggu. Karena hampir setiap hari ada pemadaman,"ujar Indri seorang pembuat kue lebaran yang berada di Jalan Rajawali Sukajadi kepada Tribun Jumat.
Indri memang mengais rezeki menjelang lebaran dengan usaha membuat  berbagai jenis kue. Namun ibu tiga anak ini harus pasrah dengan kelakuan PLN yang tidak mau tahu dengan kehidupan dan kebutuhannya.
"Jelas rugi dong, seharusnya dalam sehari itu kami bisa buat sekian banyak, namun karena mati lampu tidak bisa buat banyak. Belum lagi kalau pas lagi proses pembuatannya tiba-tiba mati lampu akhirnya kue yang sedang diaduk itu jadi mengering,"ujar Indri.
Tidak hanya Indri yang mengalami nasib sedih jelang lebaran itu, banyak ibu-ibu rumah tangga lainnya yang kerjanya membuat kue lebaran untuk dijual malah dirugikan oleh PLN. Wati misalnya ibu rumah tangga yang juga pembuat kue lebaran di Jalan Pembangunan Labuhbaru ini mengaku kesal. Karena pemadaman yang dilakukan PLN tidak hanya sekali dalam sehari, bahkan bisa tiga kali dalam sehari.
"Kalau sekali saja tidak masalah. Ini kadang bisa tiga kali sehari. Matinya juga lama, jadi malas karena kesal itu,"ujar Wati.
Memang, pelaku usaha rumahan seperti mereka ini jarang sekali memiliki mesin jenset sendiri, karena mereka hanya membantu kebutuhan keluarga disaat jelang lebaran.
"Kami buat kue ini untuk membantu suami demi kebutuhan lebaran. Maklum jelang lebaran kan banyak kebutuhan,"ujar Wati.
Tidak hanya pembuat kue yang merasa galau jelang lebaran, yang sangat menyedihkan sekali itu kisah para tukang jahit. Dimana disaat orderan banyak jelang lebaran, malah disulitkan dengan matinya lampu. Sebagian penjahit memilih untuk membeli mesin jenset karena orderan banyak. Namun sebagian lagi memilih untuk membatasi orderan, karena takut tidak siap karena mati lampu.
"Kalau kami tukang jahit ini memang terasa sekali kalau mati lampu. Biasanya dalam sehari itu kami dalam satu orang bisa menyiapkan satu atau dua bahkan tiga jahitan. Semenjak ada mati lampu ini paling satu ajalah,"ujar Rahmat tukang jahit di Jalan Pandan.
Rahmat memilih untuk membatasi orderan karena takut tidak terkejar saat lebaran dan mengecewakan konsumennya. Namun penjahit lainnya Hasnan yang tidak jauh dari tempat Rahmat tersebut, memilih untuk beli mesin jenset.
"Daripada saya tidak bisa kejar target akhirnya beli jenset. Kalau diharapkan PLN kan susah, kadang matinya dua sampai tiga kali sehari,"ujar Hasnan.
Pemadaman listrik yang terus-menerus dilakukan PLN ini memang membuat semua warga kesal dan kecewa, tidak ada terkecuali, pejabat sekalipun merasa dongkol dengan pemadaman listrik ini. Namun yang sangat menyedihkan itu bagi kalangan masyarakat yang ekonominya menengah kebawah.
Pemilik warung nasi misalnya, disaat mereka harus berusaha di malam hari karena siang harus tutup karena puasa, malah ada pemadaman sehingga membuat mereka mengalami kerugian."Kalau mati lampu, ya gimana lagi, orang beli juga pasti sepi mas,"ujar pemilik warung Ampera di Jalan Pandan kepada Tribun.
Bahkan, sebagian warga dan pemilik usaha kecil ini beranggapan jika PLN sudah tidak bisa dipercaya, karena menurut mereka alasan PLN dari dulu hanya itu-itu saja. Keseriusan PLN dan Pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada rakyatnya tidak ada.
"Dari dulu alasannya itu-itu aja, gimana kita warga mau percaya. Kalau memang sudah tau itu kendalanya kenapa tidak dari dulu diperbaiki, kan aneh. Jangan bodohi kami orang bodoh ini dong,"ujar Latif seorang warga yang sempat berang saat ditanya mengenai pemadaman yang dilakukan PLN.
Akibat adanya pemadaman yang dilakukan PLN ini juga dirasakan oleh pihak RSUD Arifin Achmad, pihak RSUD yang masih mengandalkan arus dari PLN ini mengaku kesal dan juga kesulitan saat adanya pemadaman.
"Kami memang punya jenset tapi kita tahu kan di RSUD itu sifatnya urgen semua, mesin untuk perawatan pasien. Makanya kami juga merasa kesulitan juga dengan adanya pemadaman ini,"ujar Dirut RSUD Arifin Achmad Yulwiriati Moesa kepada Tribun Jumat malam.
Meskipun RSUD memiliki mesin jenset dan alat untuk menyimpan arus, namun akibat pemadaman yang dilakukan PLN ini juga berbahaya kepada alat-alat canggih milik RSUD yang diperuntukkan untuk pasien.
"Kalau dampak yang nyata bagi alat-alat medis kita yang canggih itu, karena bisa menimbulkan kerusakan dan biaya perawatan alat itu jika rusak butuh biaya besar,"ujar Yulwiriati.
Ketika Tribun menanyakan ada berapa banyak pasien yang mati akibat adanya pemadaman secara tiba-tiba yang dilakukan PLN, menurut Yulwiriati saat ini belum berdampak, namun jika terus dilakukan pemadaman bisa saja terjadi.
"Kita sangat khawatirkan itu, makanya di RSUD itu kami lengkapi dengan peralatan alat untuk menyimpan arus, sehingga jika mati tidak langsung padam karena arus masih ada disimpannya,"ujar Yulwiriati Moesa.
Sementara itu, Humas PLN Wilayah Riau dan Kepri, Suhatman, menjelaskan bahwa Rasio kecukupan listrik di Riau yakni 250 Megawatt. Kemudan dari wilayah selatan dibantu 200 Megawatt, guna mengantisipasi  beban puncak 450 yang mencapai Megawatt.
"Kecukupan beban cuma bisa ditopang 25 persen. Yakni dari PLTU Ombilin hanya 70 Megawatt. Jadi defisit 130 mw. Guna mengantisipasi kekurangan itu, pemadaman bergilir pun dilakukan. " jelasnya.
Sementara General Manager PLN Wilayah Riau dan Kepri, Doddy Benjamin Pangaribuan, pasokan listrik minim karena saat ini PLTU omblin yang sempat diperbaiki belum bisa bekerja maksimal. Kemampuannya saat ini hanya 60 persen.
"Bila dipaksa untuk ditingkatkan kerjanya pasti langsung mengalami gangguan. Maka hingga kini tetap kita jaga agar hanya bekerja 60 persen," ulasnya.
Penyebab lainnya pemadaman bergilir, kata Doddy adalah tiga PLTA yang memasok listrik ke wilayah Riau yakni PLTA Koto Panjang, PLTA Maninjau dan PLTA Singkarak,hanya mampu bekerjaa 30 persen. Sebab debit air turun sejak memasuki musim kemarau.
Oleh sebab itu, kata Doddy, agar tidak mengganggu kekhsyukan ibadah malam di Bulan Puasa, pemadaman bergilir pun dilakukan pada siang hari.
Selain dua hal tersebut, kata Doddy dilakukan karena ada proses pemeliharaan jaringan. Tentu pemeliharaan dilakukan secara bergantian di masing-masing lokasi.
Pemadaman listrik bergilir kata Doddy diperkirakan bakal berlangsung hingga 7 Agustus mendatang. Sebab ia optimis PLTMG di Balai Pungut, Duri.
Nantinya pembangkit tersebut bakal membantu pasokan sebanyak 32 Megawatt. Kemudian pada Oktober akan beroperasi pembangkit
di Telur Sirih yang memasok 110 Megawatt.
"Bila keduanya sudah beroperasi maka kita optimis tidak ada pemadaman bergilir," jelasnya.
Sebelumnya, keadaan mulai normal pada rentang H-5 dan H+5 Idul Fitri. Sebab kala itu beban listrik menurun. Tapi pemadaman bergilir mungkin berlanjut setelah itu. Namun pelanggan jangan khawatir, sebab ada kompensasi.
"Pelanggan yang mengalami pemadaman di luar deklarasi tingkat mutu pelayanan, akan diberi pemotongan biaya beban," jelasnya
"Selain itu, dihimbau pada pelanggan yang berjumlah 1.100.000 di wilayah Riau dan Kepri untuk hemat. Satu caranya dengan mematikan lampu tak perlu. Misal satu pelanggan yang punya lampu 25 watt, mampu menghemat listik 25 Megawatt,"ujarnya.(*)

SUMBER TRIBUN
Share this article :

No comments:

Popular Posts Today

 
Support : Creating Website | media indofokus | indofokus | indofokus.com | media indofokus | indofokus News | Media indofokus
Copyright © 2011. TABLOID INDOFOKUS.COM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired MEDIA INDOFOKUS
Proudly powered by Blogger