NUF

Headlines News :
Topics :

p

adsensecamp

Pengikut indofokus

I

tv one



visitor

Flag Counter

indonesia klik

Template Information

Di Aceh Barat, Honorer Non Aktif Bisa Lulus CPNS

tenaga honorer
Aceh Barat Indofokus– Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Aceh Barat, Bambang Surya Bakti dalam jumpa pers di Kantor Bupati, Ahad (23/3/2014) menyatakan, honorer yang telah non aktif bisa jadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).
Hal itu dia katakan menyusul lulusnya salah seorang mantan anggota dewan priode 2004-2009 inisial S. Lulusnya S berdasarkan pengumuman K2 di situs web Menpan beberapa waktu lalu.
Kepada wartawan, bambang menyebutkan, S tersebut merupakan honorer di salah satu puskesmas di Aceh Barat, namun dia telah mengambil non aktif sejak menjadi anggota dewan saat itu.
Pada tahun 2009 S membuat berkas honorer untuk diangkat menjadi PNS meski dia honorer non aktif selama lima tahun. Namun Bambang tidak menyebutkan peraturan tentang honorer non aktif selama lima tahun diangkat menjadi CPNS, dia hanya menyebutkan boleh-boleh saja.
Pada kesempatan terpisah, Jamal, salah seorang honorer K2 yang tidak lulus kepada WartaAceh.com, Senin (24/3/2014) menyesalkan pernyataan Kepala BKPP Aceh Barat tersebut. Pasalnya peryataan itu menyalahi Peraturan Pemerintah tahun 2005 tentang  pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS. Sebab jika honorer tidak lagi aktif selama dua bulan, maka pihak kepala sekolah atau puskesmas berhak menghapus nama yang bersangkutan di daftar hadir .
“Aneh kalau Kepala BKPP bisa melegalkan honorer non-aktif menjadi CPNS. Biasa kita dengar mahasiswa yang mengambil non aktif kuliah di kampus, bukan tenaga honorer,” katanya kecewa.
Jamal menyakini penyataan Bambang terkesan ada keberpihakan terhadap mantan anggota dewan itu, karena dapat mencederai keadilan.
“Honorer tidak pergi ke puskesmas bisa diluluskan, seharusnya S itu harus diverifikasi ulang SK honornya, sebab bisa saja honor itu dipalsukan,” demikian pungkas Jamal.[Warta Aceh.com]

Pendaratan pertama Belanda ke AcehJIKA kita mengulang sejarah 141 tahun lalu, 26 Maret 1873 berarti hari ini jatuh pada hari yang sama, yakni Rabu (26/3/2014). Bisa jadi itu adalah sebuah kebetulan saja, namun sejarah masa lalu bukanlah sebuah kebetulan semata, ada intrik, perebutan yang berasalan, dan juga soal kekuasaan.
Sejumlah sejarah terkait tanggal 26 Maret mungkin sudah begitu sering kita simak, kita baca, dan juga kita arsipkan dalam memori di kepala. Perang kaphe Belanda atau dalam bahasa Aceh Ulanda telah begitu banyak menyita perhatian kita sebagai sebuah bangsa.
Kita juga masih ingat, bagaimana Kerajaan Belanda bersama Kerajaan Inggris waktu itu telah sepakat dalam sebuah perjanjian yang dikenal dengan Traktat Sumatera. Disana cukup jelas tertera bahwa, “Bekas jajahan Belanda di Afrika (Gold Coast -sekarang Ghana) diserahkan kepada Inggris dan jajahan Inggris di Sumatera (yaitu Bengkulu) diserahkan kepada Belanda. Untuk menguasai seluruh Sumatera jika perlu Belanda akan memerangi Aceh. Perjanjian ini ditanda tangani tahun 1871.” Walau pun pada akhirnya perjanjian tersebut mengalami penolakan dari Parlemen Inggris, yang diwakili oleh Lord Standley Aderley.
Belanda bukanlah satu-satunya bangsa Asing yang datang ke Aceh, tapi maksud dan tujuan tak lebih ingin menancapkan kekuasaannya di bumi Aceh. Tersebutlah salah satu komisaris pemerintah yang merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda F.N. Nieuwenhuijn pada waktu itu, yang diawali dengan penandatanganan traktat tersebut, bahwa tidak ada kewajiban bagi Belanda untuk menghormati hak dan kedaulatan Aceh yang sebelumnya telah diakui, baik oleh Belanda maupun lnggris seperti yang tercantum di dalam Traktat London yang ditandatangani pada tahun 1824.
Tepat pada tanggal 26 Maret 1873 dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen –yang berlabuh di antara pulau Sabang dengan daratan Aceh– Belanda memaklumatkan perang kepada Aceh. Mulai saat itu, Aceh tertimpa malapetaka dan Belanda sendiri menghadapi suatu peperangan yang paling dahsyat, terbesar, dan terlama semenjak kehadirannya di Nusantara.
Dari sejumlah data juga menyebutkan, maklumat perang dari Belanda ini harus mendapatkan hasil yang tidak menyenangkan alias bisa disebut pendaratan pertama ke Aceh terbilang gagal di bawah pimpinan Jenderal Kohler. Kala itu Belanda tidak serta merta punya kekuatan fisik militer yang kuat karena harus menunggu terhimpunnya kekuatan perang yang sedang bergerak menuju Aceh dan kapal-kapal perang Belanda yang telah tiba di Aceh terus melakukan pengintaian dan provokasi di perairan Aceh.
Tidak hanya itu, Belanda juga melakukan diplomasi lewat sepucuk surat yang dikirimkan kepada Sultan (Sultan Alaiddin Mahmud Shah II) yang meminta agar ia mengakui kedaulatan Belanda. Dinyatakan pula bahwa Aceh telah melanggar pasal-pasal perjanjian pada tahun 1857. Batas waktu yang diberikan Belanda kepada Sultan Aceh tak lebih hanya 1 x 24 jam untuk menunjukkan bahwa Belanda benar-benar akan menyerang. Apa dianya, jawaban yang diberikan Sultan jauh dari memuaskan bahkan ditegaskan bahwa di dunia tidak seorang pun yang berdaulat kecuali Allah semata.
Itulah kilas sejarah yang pernah termuat dalam ingat dunia, tidak saja berakhir disitu. Kali pertama Belanda menyerang Aceh memang buta akan kondisi, mereka mengira Aceh masih dalam tahap kemunduran, baik dari sisi politik maupun ekonomi. Kraijnhoof misalnya, pernah menyimpulkan bahwa situasi pemerintahan kesultanan Aceh lemah dan perlengkapan militer tidak berarti dibandingkan dengan Belanda. Oleh karena itu, Belanda berani menyerang Aceh.
Namun, kenyataanya perang Belanda di Aceh tidak hanya mencakup masalah ekonomi dan politik, tetapi ada segi-segi lain yang tidak diperhitungkan oleh Belanda, sehingga Belanda menelan kekalahan.
Perang kaphe Belanda di Aceh tidak hanya berakhir pasca-menderita kekalahan, walaupun terpukul dan sang Jenderal Kohler mati di dekat Masjid Raya Baiturrahman, ditambah lagi sebanyak 45 orang tewas termasuk 8 opsirya serta 405 orang luka-luka diantaranya 23 opsir.
Pada tanggal 29 April 1873 pasukan Belanda ditarik kembali ke Batavia. Dan setelah itu baru pasukan Belanda bangkit lagi untuk mempersipkan agresi kedua menyerang Aceh, Pemerintah Hindia Belanda demi memenuhi nafsunya menguasai Kutaraja kembali memanggil seorang pensiunan jenderal, J. Van Swieten untuk merebutkan Aceh hingga daerah Seulimeum jatuh ke tangan mereka pada tahun 1879, serta perang kecil pada waktu itu terus berlanjut di Aceh.[

Jurkam Demokrat Ungkap Prestasi SBY

Jumat, 21 Maret 2014 09:35 WIB
Jurkam Demokrat Ungkap Prestasi SBY
Maya Anggita, artis ibukota tampil memeriahkan kampanye Caleg DPR RI, DPRA, dan DPRK dari Partai Demokrat di Lapangan Cot Seumereng, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Kamis (20/3) siang
MEULABOH INDOFOKUS  - Para juru kampanye Partai Demokrat mengungkapkan sejumlah keberhasilan dan prestasi pemerintahan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, termasuk dalam menyelesaikan konflik panjang di Aceh. Kader Partai Demokrat berjanji akan terus mengawal perdamaian dan pembangunan di Aceh, walau SBY tidak lagi menjabat sebagai presiden.
Komitmen tersebut disampaikan bergantian oleh Anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya dan Nova Iriansyah,  pada kampanye Partai Demokrat, di Lapangan Cot Seumeureng, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Kamis (20/3). Mereka menyatakan, seluruh kader Partai Demokrat akan terus berbuat demi kemajuan Aceh ke depan.
Kampanye di lapangan dimulai pukul 13.00 WIB berakhir pukul 17.30 WIB itu turut disampaikan pula orasi oleh caleg DPRA dan DPRK secara bergantian. “Telah banyak program prorakyat dilahirkan selama kepemimpinan Pak SBY, seperti program PNPM, dilahirkan masa Pak SBY,” kata Nova.
Selain Nova dan Riefky, program-program pro rakyat yang disusung oleh Partai Demokrat juga disampaikan oleh anggota DPRA Ibnu Rusdi yang juga caleg DPR RI, caleg DPRA Yusrizal, T Iskandar Daod, dan Harmen Nuriqmar, serta caleg DPRK, Herman Abdullah dan Mufril. “Kami tidak pernah meninggalkan konstituen,” kata Iskandar Daod.
Kampanye terbuka Partai Demokrat, di Lapangan Cot Meureng, Aceh Barat, siang kemarin, turut dimeriahkan oleh artis ibu kota, Maya Anggita, serta artis lokal dari Banda Aceh dan Meulaboh. Sesekali massa diajak berjoget seraya meneriakkan yel-yel dukungan untuk Partai Demokrat.
Gita yang mengenakan busana biru khas Demokrat mengajak massa untuk jangan salah memilih. “Ayo tusuk nomor 7 Partai Demokrat ya,” teriak Maya disambut yel-yel dari massa.(SERAMBI)

MH370: Pesawat TNI AU dikerahkan di utara Aceh

Perwira TNI AU
Penyisiran oleh TNI Angkatan Udara telah dilakukan sejak Senin (10/03).

Sedikitnya satu penerbangan sortie selama 2,5 jam per hari, pesawat Boeing 737-200 intai strategis milik TNI Angkatan Udara melakukan penyisiran di Selat Malaka, khususnya di wilayah utara Aceh.
Misinya adalah mencari pesawat Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370 yang hilang dalam penerbangan rute Kuala Lumpur - Beijing pada Sabtu lalu (08/03).
Sasaran pencarian ditetapkan atas koordinasi dengan pihak berwenang Malaysia dengan alasan pesawat yang mengangkut 239 orang itu mungkin jatuh di Selat Malaka dan sekitarnya.
"Karena pesawat ini sudah dilengkapi dengan peralatan ang sangat mendukung untuk kegiatan operasi ini di antaranya adalah kamera zoom. Kita bisa terbang dengan ketinggian 15.000 dan bisa menangkap objek di atas darat maupun di atas perairan," jelas Kadispen TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto kepada Rohmatin Bonasir.

Pencarian visual

"Sampai saat ini kita intensifkan di lokasi-lokasi tersebut masih belum didapatkan tanda-tanda yang kita cari."
Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto
Selain kamera, misi penyisiran juga menggunakan radar pengintai yang ada di pesawat guna menangkap objek di atas permukaan air maupun permukaan darat.
Namun seperti yang dialami oleh tim pencari dari belasan negara lainnya, tim Angkatan Udara Indonesia belum menemukan petunjuk mengenai keberadaan pesawat Malaysia Airlines.
"Sampai saat ini kita intensifkan di lokasi-lokasi tersebut masih belum didapatkan tanda-tanda yang kita cari," kata Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto.
Apa yang dicari secara visual adalah pecahan-pecahan pesawat. Adapun sinyal dari pesawat yang hilang sudah tidak bisa ditangkap dengan pesawat.
Indonesia juga menerjunkan kapal Angkatan Laut di wilayah Selat Malaka.
Pencarian pesawat diperluas setelah muncul berbagai informasi tentang kemungkinan hilangnya MH370.

Dua Pemberondong Posko Nasdem Diringkus

Selasa, 18 Maret 2014 11:02 WIB
* Diwarnai Letusan Senjata
LHOKSUKON INDOFOKUS- Dua pria yang diduga terlibat dalam pemberondongan posko Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di Desa Kunye Mule Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, diringkus tim Gabungan Mabes Polri, Polda Aceh, dan Polres Aceh Utara di dua lokasi terpisah. Penangkapan keduanya diwarnai letusan senjata sehingga sempat mengejutkan masyarakat.
Keduanya adalah Umar Adam (35) alias Mimbe Panglima Sagoe KPA Sagoe Cut Meutia, di rumahnya Desa Aron Pirak, Kecamatan Matangkuli, Senin (17/3) sekitar pukul 12.30 WIB. Sedangkan Rasyidin alias Mario (30), warga Desa Tanjong Drien, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, diringkus di Desa Kebun Pirak, Kecamatan Paya Bakong, Minggu (16/4) sore.
Selain itu Mario telah lama dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO) oleh Polres Aceh Utara dalam kasus penculikan dan pencurian karet. Bahkan polisi pernah menembak kakinya saat penyergapan di kawasan Paya Bakong pada Mei 2010. 
Sebagaimana diketahui, posko milik Zubir HT, calon anggota legislatif (caleg) di Desa Kunyet Mule, Kecamatan Matangkuli diberondong dua pria bersebo (berpenutup wajah -red), pada 16 Februari lalu.
Informasi yang diperoleh Serambi, Minggu (16/3) sore, aparat gabungan mendapat informasi, Mario berada di warung kopi di Desa Kebun Pirak, Kecamatan Paya Bakong. Lalu tim gabungan melakukan penyergapan. Saat itu polisi terpaksa melepas lima kali tembakan peringatan agar Mario tak lari.
Begitu berhasil ditangkap, Mario langsung dibawa masuk ke dalam mobil Avanza warna hitam menuju ke Lhoksukon untuk diinterogasi. Berdasarkan informasi yang dikorek polisi darinya, pada Minggu malam itu polisi kembali bergerak menuju kawasan Matangkuli untuk menangkap Membe yang diduga terlibat dalam pemberondongan posko Nasdem.
Sekitar pukul pukul 12.15 WIB, polisi juga berhasil menangkap Membe di rumahnya. Saat penangkapan tersebut juga terdengar letusan senjata tiga kali, sebagai peringatan supaya target tak melarikan diri. Kini keduanya telah diamankan ke Polda Aceh Untuk proses pengembangan. 
Kapolres Aceh Utara, AKBP Gatot Sujono kepada Serambi menyebutkan, kasus tersebut masih dalam pengusutan tim Mabes Polri dan Polda Aceh. Termasuk untuk mencari tahu asal senjata api tersebut.
“Ya, memang ada dua orang yang ditangkap tim Mabes dan polda Aceh serta Polres Aceh Utara, karena diduga terlibat pemberondongan posko Nasdem,” ujar Kapolres.
AKBP Gatot menyebutkan, barang bukti yang sudah berhasil diamankan adalah satu unit sepeda motor (sepmor). “Saya belum dapat informasi mengenai apakah ada senjata api yang berhasil diamankan dalam kasus itu, karena kasus itu masih dikembangkan oleh tim Mabes Polri,” ujar AKBP Gatot.
Sementara itu, Kapolda Aceh, Brigjen Pol Husein Hamidi kepada wartawan di Mapolda Aceh kemarin siang mengatakan, salah satu tersangka dalam perkara itu berinisial RI yang berperan sebagai pembawa sepmor Mio saat terjadi penembakan Posko Caleg Nasdem di Aceh Utara. Sedangkan yang diduga melakukan penembakan adalah pria berinisial UA.
“Tim gabungan Polda Aceh, Polres Aceh Utara, dan Mabes Polri, pertama sekali menangkap RI di rumahnya pada Minggu (16/3) sekitar pukul 16.00 WIB. Hasil pemeriksaan dan pengembangan dari RI, polisi menangkap tersangka UA di rumahnya sekitar pukul 12.00 WIB tadi siang (kemarin -red),” kata Kapolda.
Ditanya apakah kedua tersangka merupakan simpatisan salah satu partai lokal, seperti halnya Zulkifli, tersangka pembunuhan Ketua Dewan Pimpinan Kecamatan Partai Nasional Aceh (DPK PNA) Kutamakmur, Aceh Utara, M Yuaini yang ditangkap sehari sebelumnya. “Ya, diduga seperti itu, tetapi masih dikembangkan, termasuk apa kemungkinan ada tersangka lainnya,” jawab Kapolda.
Panglima Muda Daerah Tiga (Tgk Chik Di Paya Bakong) Partai Aceh, Hasan Nurdin alias Rambo mengatakan tak tahu siapa pelaku pemberondongan posko Nasdem tersebut, karena ia tidak pernah menyuruh, apalagi memerintahkan KPA/PA di daerah Tgk Chik Paya Bakong untuk melakukan perbuatan kriminal.
“Karena itu, jika ada dan siapa pun yang terlibat dalam kasus kriminal ada pihak keamanan yang akan memprosesnya, kami tidak akan mengintervesi proses hukum. Tapi jangan dilibatkan orang lain yang tidak bersalah. Siapa pun yang melakukan perbuatan tanpa ada perintah, risikonya harus ditanggung sendiri,” ujarnya. (jf/sal)
?max-results=8">Label 9'); document.write("?max-results="+numposts8+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts8\"><\/script>");
?max-results=8">Label 12'); document.write(" ?max-results="+numposts8+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts8\"><\/script>");
?max-results=8">Label 11'); document.write(" ?max-results="+numposts8+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts8\"><\/script>");
 

Trending Template

[Valid Atom 1.0]
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TABLOID INDOFOKUS.COM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger